Sabtu, 16 Januari 2016

Yuk Siap Daftar SNMPTN 2016


Mulai pekan depan, para siswa kelas XII SMA/sederajat sudah harus bersiap mendaftar Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2016. Yuk, cari tahu jadwal lengkap rangkaian pendaftaran seleksi sebagai mahasiswa baru di kampus negeri ini!

Ketua Pelaksana SNMPTN dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2016 Rochmat Wahab menjelaskan, pendaftaran seleksi jalur undangan diawali dengan pengisian dan verifikasi Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS). Tahapan ini dibuka pada 18 Januari hingga 20 Februari.

"Siswa kelas XII bisa mendaftar SNMPTN 2016 pada 29 Februari hingga 12 Maret," ujarnya dalam acara peluncuran SNMPTN dan SBMPTN 2016 di Kemristekdikti, Jakarta, Jumat (15/1/2016). Setelah mendaftar, calon peserta SNMPTN bisa mencetak Kartu Tanda Peserta pada 22 Maret hingga 21 April. "Proses seleksi dilakukan PTN pada 24 Maret hingga 8 Mei. Sedangkan hasil seleksi akan diumumkan pada 10 Mei," imbuhnya.

Mengutip buku panduan awal SNMPTN 2016, SNMPTN atau yang lebih dikenal jalur undangan merupakan seleksi yang dilakukan oleh masing-masing PTN di bawah koordinasi Panitia Nasional, berdasarkan hasil penelusuran prestasi akademik calon mahasiswa. PTN peserta SNMPTN ditetapkan oleh Majelis Rektor Perguran Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI), dalam satu sistem yang terpadu dan diselenggarakan serentak. Siswa peserta SNMPTN tidak perlu mengeluarkan biaya apa pun. Bahkan peserta SNMPTN yang kurang mampu secara ekonomi dan dinyatakan diterima di PTN berpeluang mendapatkan bantuan biaya pendidikan selama masa studi melalui program Bidikmisi.

Sumber: Kompas.com

Kemdikbud Revisi Besar-besaran Buku Kurikulum 2013



Kepala Bidang Perbukuan Pusat Kurikulum dan Perbukuan Balitbang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Supriyatno, mengatakan, pihaknya melakukan revisi secara besar-besaran terhadap buku-buku Kurikulum 2013 (K13). "Paling banyak perubahan adalah tematik SD kelas satu hingga enam. Akibat perubahan kompetensi inti dan kompetensi dasar maka perubahan buku-buku tersebut hingga 80 persen," ujar Supriyatno dalam diskusi di Jakarta, Kamis (7/1/2016), seperti dikutip Antara.

Bahkan untuk mata pelajaran matematika kelas 12, perubahan bukunya nyaris 100 persen. Sebanyak 10 bab buku harus diganti, termasuk penempatan dari yang sebelumnya semester satu menjadi semester dua. "Ada juga yang diajarkan di SMP, diajarkan untuk SMA. Itu terjadi untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika," kata Supriyatno.

Revisi buku tersebut, lanjut dia, dilakukan berdasarkan perbaikan dari para ahli dan masyarakat yang tuntas pada akhir Oktober 2015. Pada prinsipnya, lanjut dia, perubahan tidak menghilangkan kompetensi inti satu dan dua, tetapi menempatkan kompetensi inti satu dan dua sebagai payung khusus untuk mata pelajaran di luar agama dan PPKN. "Kemudian dari perbaikan kompetensi inti dan kompetensi dasar itu, kami melakukan perbaikan buku yang selama ini beredar di sekolah," kata Supriyatno. 

Dia menyebut, pihaknya melakukan revisi sebanyak 377 buku dan dipastikan bisa selesai pada Februari 2016. Harapannya, buku-buku tersebut dapat digunakan tahun ajaran 2016/2017. Berbeda dengan tahun sebelumnya, Kemdikbud tidak menggunakan metode seperti tahun sebelumnya. Buku-buku yang selesai direvisi itu diunggah dan pemerintah akan menerapkan harga eceran tertinggi."Siapapun boleh menggandakan buku tersebut dengan mengacu terhadap ketentuan buku harga eceran tertinggi. Media, percetakan, distributor, bahkan masyarakat secara individu yang punya modal boleh menggandakan buku tersebut dan bisa dijual kepada sekolah ataupun masyarakat sesuai dengan harga eceran tertinggi," tukas dia.

Sumber; Kompas.com

Bahasa Indonesia Paling Populer di Kalangan Anak-anak Australia



Sebuah aplikasi telah dibuat oleh Pemerintah Australia guna mendorong lebih banyak lagi anak-anak Australia belajar bahasa asing. Dari lima bahasa yang diperkenalkan, bahasa Indonesia sejauh ini paling populer. Aplikasi itu dibuat karena, dalam 50 tahun terakhir, murid sekolah di Australia yang belajar bahasa asing turun dari angka 40 persen menjadi sekitar 12 persen ketika mereka berada di kelas XII.
Sumber Foto; Kompas

Kini, pemerintah federal Australia melakukan uji coba dengan menciptakan aplikasi untuk anak-anak di bawah lima tahun, ketika mereka berkesempatan mempelajari satu dari lima bahasa asing. Secara keseluruhan ada 35 aplikasi yang dibuat oleh Early Learning Languages Australia (ELLA) yang berisi tujuh aplikasi khusus untuk mempelajari lima bahasa, yaitu Mandarin, Jepang, Indonesia, Perancis, dan Arab. 

Menteri Pendidikan Australia Simon Birmingham mengatakan, uji coba ini sudah dilakukan di 41 playgroup (di Australia disebut preschool). "Uji coba ini memberikan akses bagi anak-anak berusia di bawah lima tahun untuk belajar bahasa asing lewat aplikasi," kata Birmingham. Senator Birmingham mengatakan, minat untuk belajar bahasa Indonesia sebenarnya menurun di tingkat sekolah menengah di Australia, dalam beberapa tahun terakhir.

Namun, dalam uji coba sejauh ini, bahasa yang populer dalam penggunaan aplikasi ini adalah bahasa Indonesia. "Bila ada pertanda bahwa kita bisa memberikan dorongan kepada mereka sejak usia dini, itulah yang harus lebih banyak dilakukan," kata Senator Birmingham. Aplikasi bahasa sambil bermain ini akan diujicobakan di sekitar 1.000 playgroup dengan biaya sekitar 6 juta dollar AS atau setara Rp 60 miliar.

Pada tahun 2015, pemerintah federal Australia mengalokasikan dana sebesar 9,8 juta dollar AS untuk melakukan uji coba online untuk mengetahui cara yang efektif dalam mengajarkan bahasa asing kepada anak-anak. Namun, pemerintah berharap, keadaan itu akan berubah. Kini, pemerintah mulai mencari sasaran anak-anak yang lebih muda dengan bantuan aplikasi. Yang menjadi sasaran adalah anak usia antara 4 dan 5 tahun. Senator Birmingham mengatakan, bila uji coba lanjutan ini dianggap berhasil, aplikasi tersebut akan diberlakukan secara nasional mulai tahun 2017. Ada juga rencana membuat aplikasi untuk pelajaran matematika dan sains. 

Sumber; edukasi.kompas.com

Peneliti Mulai Periksa Gigi Manusia "Hobbit" dari Flores



Peneliti dari Jepang, Australia, dan Indonesia mulai meneliti struktur gigi manusia purba Homo floresiensis yang ditemukan di Flores, Nusa Tenggara Timur, sejak 2003.
Sumber: sains.kompas.com

Penelitian dilakukan untuk mencari bukti bahwa "manusia hobbit" dengan tinggi hanya berkisar satu meter itu bukan dari jenis manusia modern (Homo sapiens) yang mengalami kecacatan.

Tim peneliti terdiri dari para ahli di Museum Nasional Ilmu Pengetahuan dan Alam (Jepang), Universitas Wollongong (Australia), dan Pusat Arkeologi Nasional (Indonesia).

Pekan lalu para ahli mulai membandingkan 40 spesimen gigi dari sembilan Homo floresiensis dengan gigi 490 manusia modern serta gigi sepupu manusia yang telah punah.

Dari hasil analisis, mereka menemukan bahwa sebagian gigi manusia purba dari Flores ini memang berukuran sama dengan gigi individu manusia modern, tetapi sebagian lagi ukuran giginya sama dengan manusia purba yang lebih tua lagi. Karakter giginya juga lebih mirip dengan manusia purba seperti Homo erectus.

Mereka membandingkan gigi-gigi tersebut dengan menggunakan analisis metric linear, analisis kontur gigi geraham, dan membandingkan satu demi satu ciri khas morfologi gigi. Dari situ, para ahli menemukan indikasi bahwa sisa gigi pada beberapa individu memiliki kombinasi gigi yang tidak ditemukan pada spesies manusia modern.

Dalam jurnal yang diunggah ke dalam situs Plos One disebutkan, temuan itu membuat para ilmuwan menolak anggapan bahwa hobbit merupakan satu spesies dengan manusia modern.

Ada kemungkinan Homo floresiensis ini merupakan keturunan Homo erectus. Mereka menduga manusia purba ini menjadi kecil karena tinggal di pulau yang sumber daya alamnya sangat terbatas sekitar 18.000 tahun lalu.

Kerangka manusia Homo floresisensis ditemukan empat peneliti Pusat Arkeologi Nasional, yakni Wahyu Saptomo, Jatmiko, Thomas Sutikna, dan Rokus Awe Due, bersama Mike Morwood dari University of New England, Australia.

Ketika melakukan penggalian di gua karst Liang Bua pada 2003 yang diketuai RP Soeroso, mereka menemukan sembilan kerangka tulang manusia yang ukurannya seperti bocah, tingginya hanya 1 meter lebih sedikit.

Temuan kerangka itu digali di salah satu sudut Liang Bua. Menurut Thomas Sutikna, Liang Bua memiliki data sejarah yang sangat lengkap mulai dari masa Holosen hingga Plestosen. Mengingat rentang masa itu, kemungkinan masih akan ada temuan lain selain Homo floresiensis.

Kerangka manusia kerdil Flores itu ditemukan saat menggali kedalaman 5,9 meter pada lapisan tanah Plestosen. Dari ukuran tengkorak, diperkirakan volume otak manusia purba itu hanya 417 sentimeter kubik.

Kontroversi

Temuan itu memunculkan kontroversi. Sebagian ilmuwan meragukan bahwa Homo floresiensis atau manusia Flores merupakan manusia yang usianya jauh lebih tua dari manusia modern.

Teuku Jacob, peneliti dari Laboratoriun Bioantropologi dan Paleoantropologi Universitas Gadjah Mada dalam laporan yang diterbitkan National Academy of Science (2006), menyatakan bahwa tulang tengkorak dan kerangka tubuh hobbit mengalami kelainan pertumbuhan dan perkembangan.

Teuku Jacob menulis laporan tersebut bersama peneliti lain, yakni RP Soejono dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Kenneth Hsu dari National Institute of Earth Science Beijing, DW Frayer dari Departemen Antropologi Universitas Kansas, dan lain-lain.

Seperti dikutip situs Proceeding National Academy of Science, dari 140 kerangka yang diteliti ditemukan bahwa mereka yang terkubur itu mirip dengan populasi Austromelanesia.

Itu berarti Homo floresiensis merupakan nenek moyang manusia modern (Homo sapiens). Rahang bawah dan gigi manusia hobbit menunjukkan kesamaan dengan suku pigmi Rampasasa yang tinggal di sekitar Liang Bua.

Sebagian individu menunjukkan kondisi mikrosefalia atau bertengkorak dan berotak kecil, sebagian lain meski bertubuh kecil tidak mengalami mikrosefalia. 

Sumber; sains.Kompas.com